Sabtu, 01 Februari 2014

Bordah: Kesenian Kolaborasi Budaya Islam dan Bali dari Pegayaman


Siang itu di tengah kerasnya terik matahari membakar kulit, suara adzan dari arah masjid jamik Singaraja terdengar begitu riuh ditengah kemacetan jalan Imam Bonjol Singaraja. Maklum saja, saat itu umat muslim sedang menjalankan kewajibannya untuk melakukan sholat jumat. Para jemaahpun mulai berdatangan dari segala penjuru yang semakin menambah kemacetan. Badan jalan sebagian dipergunakan umat untuk memarkirkan kendaraan yang digunakan. Dengan menggunakan pakaian sholat, serta sajadah yang digantungkan di pundak, umat mulai memasuki halaman masjid. Suasana berbeda mulai pecah ketika rombongan yang berpakaian layaknya orang Bali masuk ke dalam masjid. Dengan menggunakan seragam baju hijau muda, kain atau lancingan serta udeng layaknya orang Bali yang hendak bersembahyang ke pura mereka memasuki kawasan masjid untuk ikut serta dalam kegiatan sholat jumata. Terlihat agak ganjil memang jika tidak terbiasa beribadah di masjid ini. Jemaah yang lainpun seolah cuek tidak memperdulikan mereka. Mungkin karena sudah mengetahui dan terbiasa atau sikap apatis umat yang berlebihan sehingga tidak ada respon sedikitpun. Rombongan yang terdiri dari 10 orang dewasa ini kemudian mengikuti jalannya sholat jumat dengan khusuk. Seusainya, saya menghampiri mereka. Mereka ternyata adalah sekaa Bordah asal Pegayaman yang akan pentas di sebuah acara pernikahan di kampung Bugis Singaraja. Dengan mengendarai pick up terbuka, merekapun melanjutkan perjalanan menuju lokasi hajatan. Tak mau ketinggalan momen ini, sayapun memutuskan untuk mengikuti mereka. Tentunya sudah mendapat izin dari mereka.

Bordah merupakan salah satu kesenian yang berasal dan berkembang di Desa Pegayaman. Kesenian ini sudah ada sejak 1886 silam. Seni ini merupakan seni vokal yang diiringi dengan alat musik yang disebut borde. Seni yang bernuansa Islami ini dipadupadankan dengan budaya Hindu-Bali. Kesenian ini diduga satu-satunya kesenian yang hanya ada di Desa Pegayaman.
Pegayaman merupakan salah satu desa yang terletak di pedalaman yang merupakan bagian dari wilayah administratif Kecamatan Sukasada, Buleleng. Desa ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan desa lainnya di Buleleng. Hampir 90% warga Pegayaman menganut agama Islam. Mereka sudah menempati kawasan perbukitan ini sejak akhir abad XVI silam. Meskipun minoritas, mereka begitu taat dalam menjalankan ajaran Islam.

Saking lamanya tinggal di kawasan yang mayoritas beragama Hindu-Bali, lambat laun mereka menyerap dan mengolaborasikan budaya Bali dalam kehidupan kesehariannya. Hal yang paling nyata dapat kita lihat dalam kesenian Bordah. Kesenian ini berlafaskan Islam namun dikemas dengan Budaya Bali. Dari kostum yang digunakan, hampir tidak berbeda dengan masyarakat Hindu yang hendak bersembahyang ke Pura. Lantunan syair yang dikumandangkan beserta alat musiknya sangat kental dengan ajaran Islami. Syair yang dinyanyikan dipetik dari kitab Al-Berjanzi. Kitab ini menceritakan perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dalam Islam. Sementara alat musik yang mengiringi menyerupai rebana dengan ukuran yang super besar. Beratnya saja bisa mencapai 10 kilogram.

Wayan Hasyim, budayawan sekaligus pelaku seni Bordah menuturkan kesenian ini dibawa oleh leluhur mereka yang berasal dari tanah Bugis, Sulawesi. Salah satu Penglingsir di Pegayaman ini juga sempat menelusuri asal muasal dari alat musik ini dan mengatakan “Pada awalnya, Burde ini merupakan genderang yang digunakan oleh orang tiongkok dalam peperangan. Selanjutnya alat musik ini sampai ke kerajaan Bone di Makassar. Dari sinilah asal muasal kesenian Bordah, mengingat nenek moyang kami juga berasal dari Bugis”. Sesampainya di Bali, kesenian ini mendapat sentuhan budaya Bali mengingat leluhur mereka terutama kaum ibu berasal dari suku Bali. “Kemungkinan saat itu ketika mau pentas, mereka bingung mau menggunakan kostum apa. Jadilah mereka menggunakan pakaian adat Bali yang diberikan oleh Ibu-ibu” tambahnya sembari tertawa ringan.
Selain pakaian, lantunan syair kitab Al-berzanji juga mirip dengan kidung atau nyanyian suci orang Bali saat menggelar upacara yadnya. Tidak terlihat sama sekali lafal lidah arab dalam mengumandangkannya. Hal ini berbeda jauh dengan budaya Islam lainnya yang ‘Arabsentris’ ketika membaca ayat-ayat suci. Dalam permainannya juga mirip dengan budaya Bali yaitu makekawain (kidung yang menduduki posisi paling tinggi atau sekar agung). Secara bergantian mereka membawakan satu persatu bait yang terdapat dalam kitab tersebut. Selain sebagai hiburan, kesenian ini juga kerap diguanakan untuk proses penyembuhan. “Jika ada warga yang sakit keras, biasanya mereka mengundang kami untuk melantunkan ayat-ayat yang ada di kitab Al-berjanzi. Kami kemudian bernyanyi di depan orang sakit tersebut. Biasanya jika Allah menghendaki dia sembuh, dia akan segera sembuh setelah tiga hari. Begitu pula sebaliknya, jika dia sudah ditakdirkan meninggal, maka setelah tiga hari dia akan meninggal dunia” tutur Makmun ketua sekaa Bordah Kubu Lebah.

Borde terbuat dari pangkal pohon kelapa sacara utuh. Dengan diameter mencapai 55 centimeter dan tinggi 10 centimeter, bagian dalam kayu kelapa tersebut dibersihkan. Bagian atas dan bawah juga dilubangi sehingga yang tersisa bagian kulit saja. Bagian atas kemudian dipasangkan kulit sapi atau kerbau yang sudah menjalani prosesi pengolahan sebelumnya. Untuk mengeratkannya digunakan penyali (kayu rotan) sehingga kulit bisa menghasilkan suara. Sekaa Bordah di  Pegayaman biasanya membuat sendiri alat musik tersebut. Saat ini terdapat 4 sekaa Bordah yang bertahan di desa Pegayaman.

Kesenian Bordah biasanya ditampilkan ketika ada hajatan seperti pernikahan, sunatan dan maulidan di desa Pegayaman. Fungsinya hanya sebagai penyemarak kegiatan. Seperti yang dilakukan oleh Sekaa Bordah Kubu Lebah saat diundang dalam pesta pernikahan di Kampung Bugis Singaraja pada 18 Oktober 2013 silam. Namun saat Maulid, kesenian ini wajib ditampilkan semalaman penuh hingga matahari tanggal 13 rabiul awal muncul.

Meski sering berpartisipasi dalam kegiatan pemerintah seperti mewakili kabupaten dalam kegiatan Pesta Kesenian Bali, tampil dalam pameran Pembangunan yang kerap digelar saat 17 agustus, namun pemerintah seolah tutup mata dengan kesenian ini. “Sampai saat ini kami belum pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, padahal kami sering pentas dalam kegiatan pemerintahan. Kami tetap bertahan karena tidak mau meninggalkan warisan leluhur kami” keluh Mukmin (65). Selain itu partisipasi kaum muda juga sangat minim. Kebanyakan warga yang tergabung dalam sekaa Bordah adalah kaum tua. Jika keadaan ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan beberapa dekade lagi, seni yang mengkampanyekan semangat pluralisme tinggal cerita. Jika tidak ingin seperti itu, pemerintah harus ikut andil dong!  

Sabtu, 30 November 2013

Makna 'Siri' bagi Masyarakat Bugis Makassar

Cerita ini dimulai ketika pertama kali saya sampai di tanah Daeng, Makassar. Sesaat setelah sampai saya dijemput sahabat, teman, kawan dan kerabat dari Universitas Hassanudin. Mengetahui saya berasal dari Bali yang terkenal dengan arak Balinya, sayapun disuguhkan minuman penghangat khas dari tanah Sulawesi Selatan, Ballo. Warnanya putih layaknya tuak yang sering saya tenggak ketika berada di kampung halaman. Sebotol air mineral berukuran besar yang terisi dengan ballo sudah berada dihadapan kami. Mengingat saya bukan orang lokal disana, saya mencoba mengikuti aturan di daerah tersebut mengenai prosesi minumnya. Saya akui teman saya bukanlah peminum, namun karena menghormati saya sebagai tamu, merekapun ikut nimbrung dan sesekali menenggak arak khas Makassar itu. Karena sudah terbiasa, saya sering sekali meminum satu gelas penuh ballo yang sudah dituangkan dalam gelas. Maklum, ini tradisi saya ketika ‘berlayar’ di Bali. ketika gelas yang sudah terisi ballo mampir ke salah seorang teman saya, dia hanya menenggaknya sebagian. Saya bisa memahami karena memang ini bukan tradisinya. Secara spontan, teman saya yang lain nyeletuk dengan bilang “ ini siri lo jika tidak dihabiskan” dengan logat khas makassarnya. Dia sih bukan orang Makassar tapi orang Barru. Di forum inilah saya mendengar pertama kali kata ‘siri’. Dalam otak saya mungkin kata siri itu artinya memalukan karena tidak bisa menghabiskan ballo segelas, dan pamali kalo di buang karena dalam tradisi saya, ketika gelas sudah ditenggak, sisanya akan dibuang. Ternyata konsep siri bagi mereka tidak sedangkal itu.
Siri dalam masyarakat Bugis-Makassar merupakan kehormatan yang harus dijaga bahkan sampai darah penghabisan (Menurut teman saya). B.F. Matthes memberikan pengertian siri sebagai rasa malu, ketika kehormatannya merasa dilecehkan dan tersinggung dan sebagainya. C. H. Salam Basjah memberikan pengertian siri dalam tiga hal yang meliputi malu, motivasi untuk membinasakan siapa saja yang mempermalukan keluarga, dan daya dorong untuk bekerja dan berusaha sebanyak mungkin (Mattulada, Dalam Koenjtaraningrat 2007). Dalam film ‘ Badik Titipan Ayah’ karya  Dedi Mizwar juga menenpatkan  konsep Siri sebagai sesuatu yang sangat menodai keluarga Bugis. Bahkan jalur kekerasan dtempuh ole keluarga Karaeng untuk menebus apa yang telah dilakukan anaknya beserta pacarnya yang telah melakukan ‘Palariang’ yaitu kawin lari tanpa sepengetahuan dan restu dari kedua orang tua.
Bagi orang Bugis, Siri merupakan sesuatu yang sangat memalukan. Mereka akan melakukan apa saja untuk membalas seseorang yang telah melecehkan dan menginjak-nginjak kehormatan mereka. Tidak terkecuali kekerasan. Teman saya pernah bercerita di sebuah desa pernah terjadi pembunuhan karena alasan siri. Secara hukum dan hak asasi manusia hal tersebut sudah tentu tidak dibenarkan. Namun bagi keluarga dan masyarakat Bugis hal itu wajar-wajar saja. Bahkan warga sekampung mendemo aparat kepolisian karena menahan orang yang membunuh tersebut. Mereka berpendapat bahwa apa yang dilakukan si pelaku sudah tepat karena itu sudah adat.
Bercermin dari cerita teman saya tersebut, saya yakin warga Bugis tidak menginginkan pertumpahan darah terjadi hanya karena dianggap siri. Saya yakin orang Bugis cinta damai dan tidak suka kekerasan. Namun hal tersebut juga tidak bisa disalahkan begitu saja, karena ini memang tradisi dimana masyarakat Bugis sangat menjunjung tinggi norma dan adat yang diwariskan. Hanya saja ketika jalur kekerasan dipilih, ini sudah tidak wajar lagi. Sekali lagi jika ini dikaitkan dengan hukum normatif dan hak asasi manusia, maka pembunuhan tetap saja bukan jalan keluar.
Siri dalam masyarakat Bugis memiliki filsafat yang luar biasa jika masyarakat Bugis bisa memahaminya. Saya yakin nenek moyang orang Bugis menciptakan konsep Siri sebagai sebuah falsafah hidup untuk menjaga keharmonisan masyarakat. Dalam istilah kerennya disebut kontrol sosial. Setiap orang pasti memiliki rasa malu. Ini alamiah. Ketika rasa malu itu datang setiap orang akan berusaha untuk mereflesikan diri kenapa hal tersebut bisa terjadi. Setelah itu dia akan berusaha untuk mempelajari kesalahan dalam dirinya yang menyebabkan dia malu. Orang tersebut pasti akan berusa belajar dari pengalaman sehingga rasa malu tidak muncul dikemudian hari. Contoh kecilnya adalah ketika seorang anak SD berpakaian pramuka ketika upacara bendera hari senin. Dari kesalahannya itu setidaknya dia belajar bahwa pada saat hari senin harus berpakaian seragam merah putih. Begitu pula teman-temannya pastilah akan mengingatkan kesalahan yang telah diperbuat anak tersebut.
Bercermin dari contoh kecil itu setidaknya orang Bugis bisa memaknai kata siri itu sebagai media pembelajaran. Kata siri seharusnya tidak dimaknai seekstrem itu sehingga terjadi kekerasan. Semua orang memiliki rasa malu, tetapi bukan berarti malu itu dijadikan kambing hitam sehingga muncul dendam, benci dan sebagainya. Saya meyakini leluhur orang Bugis mengkonstruksikan siri itu sebagai kontrol sosial agar kita tidak melakukan kesalahan di kemudian hari. Seseorang wajib menjaga kehormatan diri, keluarga, bangsa dan Negara. Begitu pula orang Bugis diharamkan menginjak kehormatan orang lain. Ajaran ini begitu adi luhung juka dipahami secara bijak. Setidaknya ketika siri itu muncul, kita harus berfikir kenapa itu bisa muncul. Tidak mentang-mentang menyalahkan orang yang telah melakukan siri tersebut. Dengan menelusuri latar belakang siri tersebut, tidak menutup kemungkinan kesalahan ada pada diri kita. Dengan mengetahui hal tersebut kita bisa belajar untuk tidak melakukan hal tersebut.
Kembali ke cerita dalam film ‘Badik Titipan Ayah’. Andai saja Daeng Karaeng bisa mengetahui kesalannya sehingga anaknya melakukan palariang, mungkin hidupnya bisa lebih panjang dan bisa melihat cucu pertamanya tumbuh dan berkembang. Bukan malah berfikir kalau itu adalah siri dan orang yang melarikan anaknya harus mati dengan badik warisan keluarga tersebut. Pada akhirnya yang meninggal adalah dia sendiri. Andai saja Daeng Karaeng bisa memahami bagaimana perasaan anaknya dan sedikit menyingkirkan egonya, niscaya hal tersebut tidak terjadi. Padahal, akar pemasalahanya adalah kisah klasik bak Romeo dan Juliet, dimana keluarga Daeng Karaeng pernah memiliki masalah dengan keluarga besar calon menantunya itu sehingga ia tidak menyetujui perkawinan tersebut.
Siri jika dipahami sebagai falsafah hidup merupakan ajaran yang luar biasa. Siapa sih yang ingin dipermalukan?  Hanya saja bagaimana kita menanggapi rasa malu itu secara bijak. Bukan malah menimbulkan dendam benci dan sebagainya. Bukankah hidup damai itu indah? Bukan begitu Ji? Ia toh?

Minggu, 16 Juni 2013

Lebaran “Nyama Selam” Di Pegayaman

Nyama Selam, mungkin masih asing di telinga kita. Dua kata tersebut merupakan sebutan bagi mereka umat muslim yang sudah mengintroduksikan budaya Bali dalam kehidupannya. Dalam bahasa Bali, nyama  berarti saudara dan  Selam  berarti Islam. Jadi mereka adalah sudara kita (Orang Bali) yang beragama Islam. Nyama selam saat ini sudah diakui sebagai salah satu etnis yang mendiami pulau seribu Pura ini (sumber: BPSNT BALI, NTB, NTT). Sementara mereka menyebut kita ( Orang Bali yang Beragam Hindu) sebagai  Nyama Bali. Dari penggunaan istilah tersebut jelas bahwa sesungguhnya kita adalah saudara yang mungkin dalam beberapa hal memiliki perbedaan. Yang membedakan jelas adalah Agama.  Kenapa ini bisa terjadi? Sejarahlah jawabannya.
Salah satu Nyama Selam yang ada di Buleleng adalah Masyarakat desa Pegayaman. Desa ini terletak di dataran tinggi dengan ketinggian antara 450 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut. Jarak sekitar 65 Km dari Kota Denpasar atau sekitar 9 Km dari kota Singaraja. Jalan menuju desa ini berada di jalan raya Singaraja- Denpasar sehingga kita akan mudah menemukannya. Plang menunjuk jalan dan infranstuktur jalan yang memadai akan memudahkan kita sampai di Desa yang terkenal akan hasil perkebunan cengkehnya. Desa ini terbagi menjadi 5 dusun atau Banjar yaitu Banjar Dauh Margi, Dangin Margi, Kubu, Kubu Lebah dan Amerta Sari.
            Orang Pegayaman tak ada bedanya dengan orang Bali pada umumnya. Bentuk fisik yang sama, bahasa yang sama menjadikan kita susah membedakan mereka dengan orang Bali. Bedanya adalah mereka menggunakan jilbab atau peci jika keluar desa untuk suatu keperluan. Sejarah mencatat bahwa mereka merupakan campuran dari 3 etnis yang berbeda yaitu Bali, Jawa dan Bugis. Kisah mereka berawal dari masa pemerintahan KI Barak Panji Sakti di kerajaan Buleleng pada abad ke 16. Pada saat itu, dengan pasukan Goaknya, Ki Barak Panji Sakti berhasil Mengepung Kerajaan Blambangan di Jawa Timur. Kabar kemenangan tersebut tersebar luas hingga sampai ke kerajaan Mataram yang saat itu di perintah oleh Dalem Solo. Untuk menghindari peperangan lebih lanjut, mereka akhirnya sepakat untuk melakukan genjatan senjata. Selanjutnya, Dalem Solo menghadiahi seekor Gajah beserta 8 patih dari kerajaan Mataram yang saat itu sudah beragama Islam untuk mengiringi Ki Barak Panji Sakti bertolak ke Bali.
 Sesampainya di Bali, para Patih tersebut ditempatkan di sebuah tempat yang saat ini disebut Banjar Jawa. Mereka memiliki tugas untuk membantu kerajaan Buleleng dalam menghadapi kerajaan – kerajaan lain yang hendak menyerang. Benar saja, ketika kerajaan Mengwi Tabanan menyerang, merekalah yang memimpin pasuka dibantu dengan pasukan Teruna Goak. Pasukan Mengwi akhirnya berhasil digempur Mundur hingga ke Desa Benyah atau saat ini menjadi Desa Pancasari hingga ke Desa Taman Tanda, Baturiti. Berkat jasanya tersebut, para Patih dihadiahi tanah di perbatasan Buleleng- Tabanan dan dipersilahkan membuka lahan seluas – luasnya. Tempat tersebut dulunya terkenal sangat angker. Dengan keberanian dan kemampuan para patih ini, mereka berhasil membangun sebuah desa di lereng bukit itu. Selain itu berkat jasa – jasanya dalam membantu Kerajaan Buleleng seorang Gadis keturunan Raja Buleleng dihadiahkan kepada salah seorang Patih. Di sinilah mulai terjadi percampuran Budaya antara jawa (Islam) dan Bali (Hindu).
Beberapa lama kemudian, sekita tahun 1850an, Kapal ekspedisi Raja Hasanudin dari Sulawesi yang hendak menuju Jawa dan Madura terdampar di perairan Buleleng. Sebanyak 40 pasukan Bugis tersebut menghadap secara baik – baik ke Raja Ki Barak Panji Sakti. Mereka kemudian disambut hangat oleh raja dan diberikan kebebasan untuk memilih tinggal di pesisir atau di desa pegayaman mengingat mereka beragama Islam. Sebagian memilih di pesisir karena orang Bugis terkenal sebagai penjelajah laut dan sebagian lagi memilih bergabung dengan orang Pegayaman karena alasan Agama. Itulah asal mula mereka berasal dari 3 suku yaitu Jawa, Bali dan Bugis.
Karakter ketiga etnis sampai saat ini masih ditemukan pada diri orang Pegayaman. Jawa dengan lembut, sopan, dan bertaninya, kemudian Bali dengan adat dan rangkaian upacaranya serta Bugis dengan karakter kerasnya. Jika kita bertemu dengan Orang Pegayaman tata krama dan sopan santunya akan muncul seketika saat kita mulai berbincang. Sementara dalam beberapa kegiatan keagamaan maupun sosialnya, kita masih jumpai adat Bali – Hindunya dan sewaktu – waktu apabila dalam keadaan terdesak, watak Bugisnya muncul. Mereka tidak segan – segan menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah.
Sementara mengenai asul – usul nama desa, setidaknya ada dua versi yang bisa kita gunakan sebagai referensi. Versi pertama adalah berasal kata Gayam (bahasa Jawa) yaitu sejenis tumbuhan yang buahnya bisa kita konsumsi. Dalam bahasa Bali disebut buah gatep. Konon sebelum dibuka menjadi pemukiman, tempat tersebut banyak ditemukan pohon Gatep atau Gayam sehingga disebut desa Pegayaman. Untuk versi kedua berasal dari Keraton Surakarta, Solo. Di Keraton Solo terdapat sebuah keris yang bernama Gayam. Hal ini menandakan bahwa orang Pegayaman merupakan kerabat dari Keraton Solo. Hal ini pun sudah diakui pihak Keraton Solo melalui ekspedisi sejarah Pegayaman pada tahun 2007. Ekspedisi tersebut difasilitasi oleh Puri Buleleng. 
Percampuran budaya Islam – Bali sudah terjadi semenjak pertama kali berdirinya desa ini sekitar abad ke 16. Percampuran oleh beberapa pihak diklaim berawal dari perkawinan campuaran antara orang Pegayaman dan  orang Bali. Percampuran ini sampai saat ini masih terlihat. Misalnya saja dalam bahasa, sampai saat ini mereka menggunakan bahasa Bali dan mengenal Sor singgih Basa Bali. Dalam penamaan, layaknya orang Bali mereka juga melekatkan Wayan untuk anak pertama, Nengah untuk anak kedua, Nyoman untuk anak ketiga dan Ketut untuk anak keempat . Hanya saja tidak ada Wayan, Nengah atau Nyoman tagel  atau yang kedua. Nama mereka hanya berakhir pada Ketut. Untuk anak ke lima, dan seterusnya tetap menggunakan nama Ketut. Selain itu, dalam beberapa hari besar Islam, mereka juga menggunakan rangkaian kegiatan layaknya orang bali. Pada hari Maulid Nabi misalnya atau mereka menyebutnya dengan muludan, rangkaian perayaannya hampir mirip dengan upacara Piodalan pada masyarakat Hindu. Rangkaiangnya bisa sampai sebulan penuh dengan puncak acara mengarak sokok base seperti gebogan lengkap dengan daun, buah dan bunganya. Arak – arakan dilakukan sepanjang desa. Selain itu pada perayaan Lebaran, kita juga jumpai budaya Balinya yang sepertinya sudah mengakar. Rangkaian ini dimulai dari Penapean, Penyajaan, Penampahan Lebaran dan Umanis Lebaran.
Penapean
Dalam Budaya Hindu Bali, tape merupakan salah satu sajian wajib pada hari – hari besar tertentu seperti Galungan dan  Kuningan. Begitu pula di Desa ini. Tape sudah menjadi sajian wajib saat Idul Fitri. Penapean ini biasanya dilakukan 3 hari sebelum Lebaran karena tape membutuhkan waktu sampai 3 hari untuk fermentasi. Tape yang mereka buat juga sama seperti yang disajikan orang Bali saat galungan yaitu Tape beras atau Tape ketan Hitam. Kegiatan Penapean biasanya dilakukan oleh ibu – ibu di rumah masing –masing. Saking pentingnya tape saat perayaan lebaran, beredar mitos bahwa apabila seorang istri tidak bisa membuat tape akan mengakibatkan ketidakharmonisan dalam berumah tangga. Bahkan hingga sampai pada perceraian. Inilah sebabnya apabila pemuda ingin mencari Istri harus yang mampu membuat Tape sendiri. Namun mitos tersebut telah tenggelam dimakan kemajuan Zaman.
Penyajaan
Penyajaan dalam bahasa Indonesia berarti membuat jajan. Masyarakat Pegayaman sudah mempersiapkan segala macam jajanan yang akan disajikan saat Lebaran dua hari sebelumnya. Jajanan tersebut akan disajikan saat ada kunjungan dari sanak saudara, kerabat, tetangga dan sebagainya untuk bersilahturahmi atau dalam istilah mereka berziarah saat Lebaran. Jajanan tersebut akan disajikan di meja tamu atau di ruang tamu selama Lebaran berlangsung. Yang unik dari sederetan jajana tersebut adalah jaja Uli ketan dan dodol yang merupakan ciri khas Bali. Dua jajan ini juga merupakan jajanan yang wajib ada saat Lebaran. Biasanya kedua jajan tersebut disajikan dengan tape sebagai pelengkapnya. Selain itu juga disajikan jajanan seperti kripik, roti, jajanan kering modern lainnya. Pada jaman dulu, biasanya mereka membuat sendiri aneka jajanan tersebut. Namun di era modern ini biasanya mereka tidak sempat membuat dan mamilih untuk membelinya. Namun untuk jaja uli ketan dan dodol biasanya harus di buat sendiri. 
Penampahan
            Sehari menjelang Lebaran disebut dengan Penampahan. Dalam bahasa indonesia tampah berarti memotong daging. Layaknya orang Bali, mereka mempersiapkan daging untuk sajian saat Lebaran dilakukan sehari sebelum hari raya tersebut. Biasanya daging yang mereka gunakan adalah ayam, sapi, atau kambing sesuai dengan ajaran Islam. Untuk ayam biasanya mereka memotong sendiri di rumah masing – masing. Sementara daging kambing atau sapi mereka lakukan secara kolektif. Dengan patungan mereka membeli sapi atau kambing dan memotongnya kemudian di bagi rata sesuai dengan kesepakatan. Sesuai dengan ajaran Islam, mereka dilarang keras untuk membeli daging diluar orang muslim. Hal ini disebakan karena dalam ajaran mereka ada doa – doa tertentu yang harus dipanjatkan sebelum hewan dipotong agar mendapat restu dari Tuhan. Selain itu juga untuk meminta maaf ke hewan yang hendak dipotong sehingga daging yang dikonsumsi bisa dikatakan Halal.
Kemeriahan warga Pegayaman menyambut hari kemenangan
            Yang unik lagi pada hari ini terlihat ketika surya mulai merapat ke kiblat. Ibu – ibu dan remaja putri mulai nampak dengan menyuun nampan besar yang ditutup dengan penutup makanan. Penutup tersebut mereka sebut dengan saab, perlengkapan orang bali saat bersembahyang. Prosesi tersebut disebut dengan ngejot. Ngejot merupakan sebuah aktivitas dimana seorang warga memberikan jajanan atau makanan kepada sanak famili, kerabat, tetangga, orang yang dihormati dan sebagainya saat hari – hari tertentu. Dalam prosesi tersebut, warga Pegayaman biasanya menyuguhkan aneka jajanan seperti dodol, jaja uli dan tape dan makanan seperti nasi lengkap dengan lauknya dan Sayur. Saat sampai di tujuan, mereka langsung menyerahkan sajian tersebut kepada warga yang dituju. Ketika hendak pulang, tuan rumah juga biasanya membalas dengan memberikan jajanan dan makanan yang sama yang ada rumah untuk diberikan kembali kepada yang orang ngejot tadi. Sebuah transaksi yang unik. Biasanya sajian tersebut digunakan untuk berbuka puasa di akhir – akhir puasa. Sebuah tradisi yang penuh dengan makna dan filosofi. Hal tersebut tak ubahnya dengan tradisi ngejot  yang dilakukan orang Bali saat hari besar umat Hindu.
            Pada malam harinya, seperti layaknya warga muslim ditempat lain, mereka juga melakukan prosesi malam Takbiran. Gema Takbir terus berkumandang sebagai lambang kemenangan kaum Muslim karena sudah mampu melewatkan puasa selama sebulan penuh. Alunan takbir yang mengumandangkan “Allah Wu Akbar” seolah sebagai lonceng pemanggil warga untuk segera berkumpul di Masjid. Setelah semua warga berkumpul, Imam Masjid memberikan arahan teknis Takbiran kepada warga. Para tetua Desa, Imam, Ustad, Ulama dan parat desa berada di barisan paling depan. Disusul dengan anak – anak serta orang tua dan para pemuda dan pemudi. Letusan kembang api dan mercon seolah menambah semaraknya malam kemenangan tersebut. Ketika bersiap berjalan, para pemuda dan anak – anak yang sudah menyiapkan obor sebelumnya langsung meyalakannya. Gema takbir terus berkumandang dari pengeras suara masjid ditambah lagi dari warga sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Sepanjang perjalanan megitari desa, kumandang tersebut tak juga reda seakan mereka dengan tulus mengagungkan nama Tuhan. Mercon dan kembang apipun terus mengiringi  perjalan suci tersebut. Yang nampak saat itu adalah kobaran api yang berasal dari obor serta mercon dan kembang api serta gema “Allah Wu Akbar”. Seketika desa tersebut yang biasanya sepi, senyap berubah menjadi semarak. Di tengah perjalanan, terlihat api besar membumbung tinggi ke angkasa. Seketika pula warga yang turut dalam rombongan terenyang. Ternyata api tersebut berasal dari salah seorang pemuda yang meyemprotkan minyak atau cairan yang mudah terbakar ke arah obor. Seketika pula api besar membumbung dari obor tersebut. Seperti itulah warga Pegayaman merayakan kemenangan di hari yang suci tersebut.
            Sesampai di Masjid, gema tersebut tak kunjung usai. Alunan mercon dan indahnya kembang api juga tak surut. Sebuah wujud kegembiraan warga menyambut hari nan fitra. Warga satu – persatu meninggalkan masjid dan kembali ke rumah masing – masing. Dari pengeras suara masjid terus berkumandang Gema takbir hingga subuh. Bahkan anak – anakpun ikut berpartisipasi dalam aktivitas tersebut. Terdengar dari suara yang agak serat dan agak malu – malu dari arah pengeras suara masjid. Seperti itulah warga pegayaman menyemarakkan malam takbiran sebagai wujud syukur di hari kemenangan.
Lebaran
Pagi subuh di hari Idul fitri 1 Syawal 1433, masih terdengar sura takbir Tuhan. Seolah suara mereka tak habis –habisnya semalam suntuk mengumandangkan “ Allah Wu Akbar”. Suasana mulai kembali riuk ketika mentari menampakkan diri. Seluruh warga bersiap merayakan kemenangan dengan sholat atau menurut istilah orang pegayaman Sembahyang Id dan berziarah. Seperti pada lebaran – lebaran sebelumnya, mereka melakukan Sembahyang Id pada pukul 10:00 Wita. Yang wajib melakukan sembahyang Id di masjid adalah kaum Pria sementara para wanita melakukannya secara berjamaah di rumah atau di mushola terdekat. Untuk sembahyang Id di luar masjid bisa dilakukan sebelum atau seusai sembahyang Id di Masjid.
Mendekati pukul 10:00, Imam masjid kembali mengingatkan warga melalui pengeras suara agar segera merapat ke masjid. Tentu saja dengan menggunakan Bahasa Bali Alus. Setelah warga terkumpul sebagian mulai masuk ke areal masjid dan sebagian lagi masih duduk sambil merokok di areal parkir. Biasanya mereka yang segera masuk masjid adalah para orang tua untuk mempersiapkan tempat dan menggelar sajadah tempat bersimpuh memuja Tuhan. Sementara yang menunggu di parkiran adalah pemuda. Ada yang unik ketika mereka sedang asyik menunggu. Seorang pemuda terlihat melepaskan gelang karet yang ada di tanggannya secara paksa. Sepertinya gelang yang berwarna hitam dan putih dan berjumlah lebih dari 6 tersebut sudah lama melekat di lengannya. Dengan sekuat tenaga gelang tersebut berhasil diputus dan lepas. Mungkin saja pemuda tersebut ingin berpenampilan sempurna ketika berada di Rumah Tuhan untuk bersujud memuja kebesaranNya. Dari dalam masjid terdengar kembali gema yang mengagungkan nama Tuhan dari para Imam masjid yang diikuti oleh Jemaah. Secara bergantian kebesaran Tuhan terus dikumandangkan hingga doa sembahyang Id mulai terdengar. Para pemuda yang awalnya masih bersantai, bergegas masuk ke areal masjid untuk mengikuti sembahyang Id. Dari arah berbeda datang pula para jemaah yang tergesa – gesa masuk ke masjid. Susana seketika hening ketika doa – doa sembahyang Id mulai dikumandangkan.
Sekitar 15 menit kemudian, sembahyang Id berakhir yang selanjutnya adalah penyampaian Khotbah dari ulama masjid. Awalnya para jamaah sudah diingatkan agar terus berada di masjid sebelum acara usai. Namun nampaknya sebagian pemuda tidak tertarik untuk mendengarkan khotbah dan langsung meninggalkan masjid. Sementara yang masih bertahan di sana adalah para Orang tua dan sebagian pemuda. Isi khotbah tersebut adalah esensi dari puasa selama sebulan serta makna hari kemenangan. Tak lupa Ulama menyelipkan pesan – pesan yang ada dalam ajaran Islam kepada jamaah.
Khotbahpun usai, suasana dari dalam masjid kembali riuh. Semua jemaah secara bergantian bersalaman dengan para ulama dan Imam masjid tak lupa mengucapkan mohon maaf lahir batin. Setelah silahturahmi dengan Ulama usai, mereka mulai meninggalkan masjid dan pulang ke rumah masing – masing.
Di tempat yang berbeda, warga nampak ramai berjalan menuju kuburan atau pemakamam umum di Pegayaman. Dengan berbondong – bondong bersama keluarga, mereka mulai mendekati makam kelurga yang telah mendahului menghadap Tuhan. Doa – doa diucapkan untuk mendoakan agar mendapat tempat yang layak di sisi Beliau. Tangisan serta air mata pun turut menambah khusuknya berziarah. Setelah usai doa, mereka kemudian menabur bunga dan air sebagai tanda keiklasan keluarga yang ditinggalkan. Mereka kemudian berpamitan dan jalan menuju pulang.
Di tengah perjalana, berjabat tangan dengan warga lain seolah mejadi kewajiban. Ketika bertemu dengan orang yang dikenal mereka langsung mengucapkan “ Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidzin Wal Faidzin” sambil berjabat tangan. Dari arah berbeda terdengar pula “Lahir Batin, Mbok”, seolah kata tersebut sudah mewakili permohonan maaf akan kesalahan – kesalahn yang telah diperbuat. Hampir semua warga tumpah ruah di jalanan. Pihak kepolisian turut bersiaga untuk mengawal jalannya hari raya. Seperti itulah pemandangan yang terlihat di desa nan unik tersebut hingga matahari menyongsong ke barat.
Di rumah – rumah warga, keluarga, kerabat, tetangga mulai berdatangan untuk bersilaturahmi sambil berbincang – bincang. Aneka jajanan yang telah disiapkan sebelumnya disajikan di atas meja tamu. Tak lupa jaja uli ketan, dodol dan tape yang merupakan ciri khas Lebaran turut disuguhkan. Seperti itulah aktivitas mereka sampai kegelapan mulai menyusup ke desa yang Subur tersebut.  
Manis Lebaran
            Setelah usai berhari raya, keesokan harinya yang masih merupakan rangkaian lebaran, mereka sebut dengan manis Lebaran. Hal juga sudah sangat lumrah pada masyarakat Bali setelah hari raya besar usai. Di hari ini biasanya warga Pegayaman manfaatkan untuk berziarah ke sanak famili yang berada di luar desa. Sebagian mengisi hari ini dengan berlibur ke tempat rekreasi bersama keluarga. Nampak warga mulai bersiap –siap. Sebagian dengan menggunakan mobil pribadi mulai meninggal rumah dan keluar desa untuk berziarah. Sementara sebagian lagi dengan menggunakan mobil pick up secara kolektif berangkat menuju tempat rekreasi.
Tempat yang paling banyak dipilih adalah tempat wisata kolam Air Sanih yang masih berada di kawasan Buleleng. Seorang pemuda menuturkan bahwa tempat wisata tersebut dipenuhi oleh warga Pegayaman sampai- sampai ada wisatawan luar Pegayaman tidak sempat mandi, hanya mencelupkan tangan ke kolam dan bergegas meninggalkan Tempat tersebut saking penuhnya. Untuk mengurangi pengeluaran, biasanya warga membawa makanan sendiri dari rumah dan menikmatinya bersama keluarga di tempat rekreasi tersebut.
Penutup
Sebuah pengalaman yang luar biasa bisa merayakan Hari besar nan fitrah di Desa Pegayaman meski penulis bukan umat Muslim. Setidaknya kita bisa mengambil hikmah dari rangkaian hari raya tersebut bahwasanya berbeda itu sesungguhnya sangatlah indah. Kita bisa memaknai perayaan tersebut sebagai bentuk percampuran Budaya Islam – Hindu sebagai ajang untuk saling mengisi, bukan berkonflik. Toleransi merupakan kata kuncinya. Mereka sangat terbuka dan saling menghormati. Terbukti dari diterimanya penulis selama beberapa hari untuk turut serta dalam perayaan hari besar tersebut, meski berbeda keyakinan. Hal ini terjadi karena memang mereka menganggap orang bali sebagai nyama atau saudara. Jika mereka bisa seperti itu, kenapa kita tidak? 

Mitos di Balik Tradisi Penguburan Masyarakat Terunyan

Terunyan merupakan salah satu desa tradisional yang berada di Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Propinsi Bali. Desa ini tepat berada di pantai timur Danau Batur yang sudah melegenda di Pulau Bali. Masyarakat yang mendiami desa yang berada di ketinggian 500-1500 dpl ini adalah masyarakat Bali asli atau Bali Aga. Mereka menyebut dirinya sebagai masyarakat Bali Turunan karena berkembang mitos bahwa mereka diturunkan langsung dari langit. Salah satu keunikan tradisi yang terdapat desa ini yang telah mendunia adalah sistem penguburannya. Masyarakat tidak menguburkan mayat secara penuh layaknya sistem penguburan pada masyarakat umumnya. Mereka hanya meletakkan mayat di atas tanah dengan wajah mayat dalam keadaan terbuka. Uniknya, mayat-mayat tersebut tidak mengeluarkan aroma busuk sedikitpun. Untuk menghindari gangguan hewan liar seperti anjing, mayat hanya dibatasi dengan bambu yang dijalin hingga membentuk prisma. Letak pemakaman ini berada di balik tebing sisi utara Desa Terunyan. Untuk mencapainya masyarakat maupun wisatawan harus menggunakan tarnsportasi air berupa perahu atau boat. 
Keunikan sistem pemakaman ini sudah terkenal hingga ke mancanegara sehingga tak heran pemakaman ini sering dikunjungi wisatawan asing. Yang menjadi daya tarik dari pemakaman ini adalah tidak terciumnya aroma busuk dari mayat-mayat tersebut. Konon, masyarakat mempercayai bahwa tidak keluarnya aroma busuk itu disebabkan adanya pohon yang mampu menyerap aroma busuk dari mayat. Dalam istilah mereka pohon itu disebut Taru Menyan. Inilah yang menjadi asal usul nama Desa Terunyan. Taru berarti pohon dan Menyan berarti harum, dengan kata lain berarti pohon yang mengeluarkan aroma harum. Konon, keharuman pohon inilah yang mampu menyerap bau busuk yang keluar dari mayat. Pohon ini tepat berada di pemakaman atau dalam istilah mereka disebut Setra Wayah. 
Ada beberapa mitos yang menyelimuti sistem pemakaman masyarakat Desa Terunyan. Jumlah kuburan atau mayat yang berada di pemakaman ini dari jaman dahulu hingga saat ini tetap yaitu 7 buah. Hal ini dikaitkan dengan jumlah tumpang atau meru pada pelinggih atau bangunan suci tempat berstananya Ratu Gede Pancering Jagad Bali. Ratu Gede Pancering Jagad Bali adalah dewa tertinggi dalam kepercayaan masarakat Desa Terunyan. Pelinngih ini berada di Pura Desa yang terletak di Banjar Terunyan. Untuk tetap mempertahankan jumlah kuburan, mayat yang telah berumur paling tua akan dibersihkan. Tulang belulang serta tengkoraknya diletakkan di sebuah altar yang berada di sisi kanan pohon Taru Menyan. Mayat baru yang hendak dikubur diletakkan di kuburan yang telah dibesihkan itu sehingga jumlahnya tetap tujuh buah. 
Altar tempat tengkorat mayat yang sudah dibersihkan

Mayat yang dikuburkan di Setra Wayah ini tidak sembarangan. Masyarakat yang meninggal secara wajar saja yang bisa dikuburkan di tempat ini. Yang bisa dikuburkan di tempat ini adalah masyarakat yang meninggal karena usia lanjut. Orang meninggal secara tidak wajar seperti karena sakit atau kecelakaan (salah pati maupun ulah pati) akan dikuburkan di kuburan khusus yaitu di Setra Madya. Sistem penguburannya mayat dikuburkan secara penuh layaknya sistem penguburan pada umumnya. Setra Madya terletak tidak jauh dari Setra Wayah. Untuk mencapainya juga menggunakan perahu atau boat. Selain kedua Setra tadi, ada juga satu setra yang peruntukkan bagi balita. Setra ini disebut Setra Alit yang berada di satu areal dengan Setra Madya. 
Mitos lain yang berkembang adalah kaum perempuan asli  Desa Terunyan tidak diperbolehkan mengunjungi Setra Wayah. Sampai saat ini masyarakat Terunyan belum mengetahui alasannya namun mereka tetap menjalankan tradisi yang diwariskan secara turun temurun tersebut. Ketika ada upacara kematian, yang mengantarkan mayat ke kuburan hanyalah kaum lelaki. Sementara para perempuan hanya bisa mengantar sampai di dermaga yang berada tepat di depan desa. Mitos lainnya adalah perempuan yang sedang dalam keadaan haid dilarang mengunjungi kawasan ini. Bagi masyarakat Desa Terunyan, Setra Wayah adalah kawasan yang disucikan. Untuk itulah agar tetap menjaga kesucian kawasan setra, masyarakat melarang wisatawan yang sedang menstruasi berkunjung ke tempat ini. Selain itu, wisatawan yang sudah selesai berkunjung ke kawasan Setra Wayah disarankan agar mencuci wajah dengan air Danau Batur untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat juga melarang wisatawan berkunjung ke Kuburan di atas jam 6 sore.
Setra Wayah: tempat berdirinya pohon Taru Menyan.
Mitos yang terakhir adalah pengunjung kuburan ini dilarang keras mengambil apapun dari kawasan ini untuk dibawa pulang. Pengunjung dilarang memotong, memetik atau merusak pohon Taru Menyan yang sangat disucikan warga. Bahkan sampai saat inipun belum diketahui jenis pohon tersebut karena belum adanya penelitian mengenai karakteristik pohon Taru Menyan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat masyarakat tidak mengijinkan siapapun memetik dan membawa pulang dahan ataupun daun dari pohon ini. Selain itu, pengunjung dilarang membawa tengkorang maupun tulang belulang yang berada di areal Setra untuk dibawa pulang. Pengunjung hanya diperbolehkan menyentuh dan memegang untuk sekedar berfoto. Salah seorang warga menuturkan, beberapa tahun silam pernah seorang wisatawan dari Jawa datang dan membawa tengkorak tanpa sepengetahuan warga sebagai oleh-oleh. Tengkorak ini berhasil dibawa sampai ke luar desa. Hanya saja saat sampai di Pelabuhan Gilimanuk, ketika berada di kapal yang ditumpanginya, wisatawan ini kesurupan dan berontak. Akhirnya tengkorak tersebut dikembalikan lagi ke kuburan. Wisatawan ini akhirnya diminta agar menggelar upacara Guru Piduka sebagai tanda permohonan maaf atas kesalahannya. Meskipun berbeda keyakinan, ia bersedia mengikuti dan melaksanakan upacara tersebut.  

Jumat, 14 Juni 2013

Tradisi Sokok Taluh pada Masyarakat Islam Pegayaman

Jika anda berpikir Bali selalu identik dengan Masyarakat Hindu, mungkin anda perlu berpikir ulang atau datang ke Bali langsung. Memang sebagian besar Masyarakat Bali beragama Hindu namun tidak dipungkiri masyarakat lain juga ikut mendiami pulau yang berbentuk ayam ini seperti Masyarakat Islam, Kristen, Budha dan yang lainnya. Bukan hanya di era globalisasi ini saja Bali menjadi pulau yang multietnis, kebinekaan ini sudah terjadi sekitar ratusan tahun silam. Salah satu buktinya adalah keberadaan Masyarakat Islam di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Mereka sudah mendiami Pulau Seribu Pura ini ratusan tahun silam sejak Kerajaan Buleleng berdiri dengan raja terkenalnya Ki Barak Panji Sakti. 
Kontak dan komunikasi dengan masyarakat lokal Bali tidak terhindari lagi. Mereka kemudian mengadopsi beberapa unsur budaya Bali dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah tradisi sokok taluh yang memiliki konsep mirip dengan gebogan pada Masyarakat Hindu. Sokok Taluh biasanya dibuat oleh warga Pegayaman pada saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Setiap warga yang mampu membuat sokok dengan berbagai hiasan. Sokok terdiri dari telur yang dihias secantik mungkin dan ditata sedemikian rupa mirip dengan konsep gebogan. Seiring perkembangan waktu, bentuk sokok kian mengalami perubahan. berikut aneka bentuk sokok yang dibuat pada saat perayaan maulid Nabi Muhammad SAW pada 24 januari tahun 2013.
Sokok Original: Telur masank yang dihiasi aneka kertas warna-warni berbentuk bunga diikat pada batang kayu kecil kemudian ditusukkan pada batang pisang yang menjadi pusatnya. Dasarnya berupa kotak bentuk limas yang di dalamnya terdapat aneka bentuk hasil bumi seperti buah-buahan, pisang, kelapa dan sebagainya. Kotak ini memiliki makna Ka'abah sebagai lambang kebesaran Agama Islam. Untuk menggotongnya ditambahkan kayu atau bambu di tengah ataupun disamping kotak. 
 
Sokok Bermotor: jika sokok yang original memerlukan tenaga manusia untuk menggotongnya, sokok satu ini tidak. sokok ini menggunakan tenaga motor untuk mengaraknya. Motor milik salah salah seorang warga Banjar Dauh Margi ini dihiasi dengan sedemikian rupa hingga menyerupai kupu-kupu. Telur diletakkan di sela-sela sayap si kupu-kupu. Si pemilik sokok tidak akan merasa lelah saat pawai sokok dilakukan, maklum pemilik hanya perlu menaiki motornya untuk mengikuti jalannya pawai.
Perahu Sokok: meski sudah ratusan tahun berada di Bali, mereka tidak lupa dengan leluhur mereka. Leluhur masyarakat Pegayaman berasal dari tanah Jawa (Kerajaan Mataram) dan Orang Bugis (Kerajaan Bone). Kesetiaan mereka pada leuhurnya terlihat pada sokok disamping. Orang Bugis pada Kerajaan Bone terkenal sebagai pelaut. Mereka sampai di tanah Balipun karena terdampar di perairan Buleleng. Untuk itulah seorang warga membuat Sokok berbentuk perahu sebagi bentuk kecintaan terhadap nenek moyang mereka. Namun sokok ini dibuat bukan untuk berlayar lho,,
Ogoh-ogoh Sokok: saking lama dan intensnya komunikasi masayarakat Pegayaman dengan masyarakat dan budaya Bali, sorang warga membuat sokok menyerupai ogoh-ogoh yang terdapat pada budaya Hindu. Hal ini terlihat jelas pada bentuk tangan dan gada yang sedang dipegang terinspirasi dari pembuatan ogoh-ogoh. Meski hanya berupa tangan yang memegang gada, sokok ini memiliki maksud yaitu mengajak seluruh warga Pegayaman agar tetap menjalankan dengan teguh ajaran Rasul dalam Agama Islam. 









Spiderkok (Spider Sokok): Mungkin pembuat sokok satu ini terinspirasi dari film Spiderman. Terlihat di sekitar Telur yang beralaskan batang pohon pisang ini terdapat laba-laba raksasa yang dikuliti dengan plastik berwarna hitam. Sokok ini dibuat oleh Komunitas Dinkdink, salah satu kelompok remaja di Banjar Dangin Magri Desa Pegayaman.


















Masjid Sokok: Salah satu sokok karya remaja Pegayaman yang Mondok di Ponpes Darussalam ini mengangkat tema Masjid. Telur digambari aneka karakter manusia lengkap dengan pakainnya saat berada di masjid. Para remaja ini ingin menampilkan aneka karakter orang sedang berada di Masjid untuk solat. Salah satunya menyerupai setan lengkap dengan tanduknya. mereka ingin menyampaikan bahwa hendaknya jika datang ke masjid dengan hati yang tulus agar sholat yang dilakukan bisa mendapat berkah. Jika tidak, maka sia-sialah datang masjid. 


Sokok Go Green:
Isu pencemaran lingkungan membuat dua warga Pegayaman mengusung tema go green dalam mendesain sokoknya. Hal ini dapat terlihat dari minimnya penggunaan bahan-bahan plastik atau kertas dalam proses pembuatannya. Hampir 90 % bahannya adalah benda ramah lingkungan seperti janur. Telur dimasukkan ke dalam ketupat sehingga tidak memerlukan plastik sebagai tempatnya. Meski nampak sederhana, mereka mengajak warga Pegayaman agar mencintai dan menjaga lingkungan agar tidak tercemar melalui sokok hasil karyanya. 

Sokok Te Sate: Sokok satu ini lebih mirip dengan penjual sate dari madura yang menjajakan satenya dengan menggunakan dua keranjang yang digantungkan pada sebuah kayu. Tujuannya adalah agar saat pawai berlangsung, pemilik sokok tidak menggunakan banyak tenaga manusia karena bisa di diangkat oleh satu orang saja.



Nb: tanggal, bulan dan tahun yang ada di foto adalah kesalahan teknis pada saat setting kamera. Waktu yang benar adalah 24 januari 2013.